Nov 16, 2017
1131

Kabupaten Raja Ampat menjadi salah satu destinasi impian untuk masyarakat Indonesia. Keindahan alam dan wisata bahari yang ditawarkan bukan lagi berkelas nasional, namun sudah mancanegara. Tak heran jika masyarakat dalam maupun luar negeri berbondong-bondong untuk bisa liburan ke wilayah kepulauan satu ini.

Salah satu wisata yang harus dikunjungi saat liburan ke Kabupaten Raja Ampat ialah Desa Sauwandarek. Desa yang terletak di Distrik Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat ini memberikan banyak pemandangan indah, baik di darat maupun lautnya.

Desan Sauwandarek menjadi salah satu pondasi keindahan Kabupaten Raja Ampat, karena, laut di tempat ini wisatawan bisa melihat kuda laut mini, ikan mandarin, ikan kakap, ekor kuning, blue ring octopus, udang mantis dan masih banyak lagi. Bahkan, jika beruntung maka penyelam bisa menyaksikan langsung kelompok ikan tuna dan barakuda yang tengah mencari makan bersama gerombolannya.

Liburan ke tempat satu ini, sayang apabila wisatawan tidak melakukan snorkeling di sekitar pantai maupun diving di lautnya. Selain bisa bertemu ikan-ikan di atas tadi, dengan dua aktivitas olahraga air ini maka wisatawan juga bisa menyaksikan keindahan terumbu karang yang ada di Desa Sauwandarek.

Beberapa penyelam mengungkapkan, banyak spot-spot diving yang keren di kawasan Desa Sauwandarek. Eksotisme pemandangan bawah laut ini tak lepas karena posisi Desa Sauwandarek yang berada di Selat Dampier, salah satu titik populer untuk menyelam.

DESA SAUWANDAREK: Keindahan alam dengan ragam budaya dan keramahan penduduk setempat menambah nyaman saat wisata di sana (Foto: Norbert Trewin /Flickr)

Bagi mereka yang tidak berani snorkeling maupun diving tak perlu khawatir, karena sejumlah dermaga menyajikan pemandangan bawah laut yang keren dengan ikan-ikan yang berkumpul di bawahnya. Pemandangan ini bisa dilihat dengan mata telanjang. Wisatawan juga bisa bermain dengan anak hiu di pinggir pantai.

Keindahan Desa Sauwandarek tak hanya itu, terdapat sebuah telaga air asin yang cukup populer. Telaga Yenauwyau, demikian masyarakat setempat mengenalnya. Di telaga ini, konon air asin yang mengisi telaga berasal dari laut yang dulunya terhubung dengan sebuah gua.

Jika berkunjung ke telaga ini, ada satu mitos positif untuk wisatawan yang bisa menjumpai penyu putih. Pasalnya, penyu putih yang disebut sebagai penghuni telaga mampu memberikan keberuntungan bagi mereka yang bisa melihatnya secara langsung.

Telaga Yenauwyau memiliki sebuah dermaga yang bisa dijadikan sebagai lokasi bersantai. Dari tempat ini, bisa terdengar suara-suara burung saling berkicau, salah satunya burung maleo waigeo, burung endemik yang berasal dari desa tersebut.

Penduduk Desa Sauwandarek begitu ramah, mereka tak segan untuk membantu para wisatawan. Aktivitas ekonomi mereka pun berasal dari hasil tangan yang mereka jajakan. Mulai dari gelang, tas hingga souvenir kecil. Harganya pun relatif murah, yakni masih berkisar di angka Rp 20 hingga 50 ribu.

Akomodasi

Akses akomodasi ke Desa Sauwandarek tidak terlalu sulit. Wisatawan bisa memulai perjalanan dari Jakarta menggunakan pesawat terbang menuju Bandara Domine Eduard Osak. Dari situ melakukan perjalanan laut dengan kapal ferry maupun speedboat menuju Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Tiba di sana, perjanalan lau dilanjutkan menuju Distrik Meos Mansar. Waktu yang dibutuhkan yakni sekira 7 hingga 8 jam.

Penginapan

Sama dengan beberapa destinasi wisata di Kabupaten Raja Ampat, home stay bisa dijadikan salah satu tempat bermalam. Harganya pun relatif bervariasi. Namun, pastinya masih terjangkau untuk dijadikan tempat bermalam.

Meski perjalanan menuju Desa Sauwandarek membutuhkan waktu yang panjang. Namun, dijamin wisatawan akan menikmati keindahan alam dan wisata bahari di sana. Bahkan, tidak sedikit wisatawan yang enggan buru-buru meninggalkan destinasi wisata ini. Hal itu juga didasari masih asrinya kawasan sekitar, termasuk rumah-rumah penduduk yang masih asli. Jalan ke Desa Sauwandarek, dijamin wisatawan bakal mendapatkan foto-foto keren. Mulai dari darat hingga lautnya. (L-FAU / Foto:  Gwenole de Kermenguy / Flickr)