Nov 16, 2017
296

Pengembangan wisata di Indonesia saat ini, tak hanya bertumpu obyek wisata yang hanya menjadi tempat rekreasi semata. Namun juga menjadi wisata konservasi yang bertujuan untuk edukasi kepada pengunjung bahkan warga sekitar obyek.

Seperti halnya yang dikembangkan obyek wisata HUutan Mangrove Bedul yang biasa disebut Ekowisata Hutan Mangrove Blok Bedul. Kawasan wisata berbasis lingkungan ini menawarkan daya tarik wisata berupa hutan mangrove atau bakau di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Hutan Mangrove Bedul berada di tepi Daerah Aliran Sungai Setail dan muara sungai Segara Anakan Taman Nasional Alas Purwo.

Destinasi wisata mangrove cukup unik, lantaran terdapat sekitar 27 jenis tanaman mangrove yang tumbuh di kawasan ini dan paling lengkap di Indonesia. Tak heran, jika kemudian kawasan wisata hutan mangrove ini dianggap yang terbesar dan terluas di Pulau Jawa.  Lantaran luasan hutan mangrove seluas 2.300 hektare ini memanjang sejauh 18 kilometer di tepi Segara Anakan Taman Nasional Alas Purwo.

Nama Bedul sendiri dijadikan nama hutan mangrove tersebut lantaran banyaknya ikan bedul, sejenis gabus yang memiliki sirip di punggung di wilayah tersebut. Kawasan ini kali pertama dikembangkan masyarakat sekitar Hutan Mangrove Bedul yang bekerjasama dengan pengelola balai Taman Nasional Alas Purwo.

Sebagai destinasi wisata konservasi, Hutan Mangrove Bedul menjadi habitat beragam satwa seperti monyet, biawak, burung bangau, elang laut dan blibis. Bahkan pada bulan tertentu sekitar 16 jenis burung migran dari Australia berada di kawasan mangrove. Di antaranya Cekakak Suci (Halcyon chloris/Todirhampus sanctus), burung Kirik-Kirik Laut (Merops philippinus), Trinil Pantai (Actitis hypoleucos) dan Trinil semak (Tringa glareola).

Lokasi Mangrove Bedul berada di selatan wilayah Banyuwangi tepatnya di Blok Bedul Taman Nasional Alas Purwo. Hutan mangrove ini diapit dua kawasan yaitu Pantai Grajagan di sisi barat dan Pantai Plengkung di sisi timur. Bagi pengunjung yang memasuki Mangrove Bedul dipersilakan mengelilingi kawasan mangrove dengan syarat mentaati peraturan dan peringatan yang telah ditetapkan oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo.

Pengunjung yang ingin menyaksikan dari dekat wisata konservasi ini diberi ruang berupa jalan setapak yang dibangun permanen dan kayu membelah area hutan mangrove menuju ke tepian Segara Anakan sepanjang 300 meter. Dari jalan inilah pengunjung dapat melihat beraneka jenis tanaman bakau dan menjadi lokasi berfoto di tengah-tengah hutan bakau. Setelah puas berjalan membelah mangrove, di ujung jembatan terdapat Dermaga Bedul Utara yang menjadi dermaga perahu wisata.

Pengunjung bisa menaiki perahu tanpa dipungut bayaran untuk menuju ke seberang Segara Anakan dan berkeliling kawasan hutan mangrove dengan menyusuri tepiannya.

Sedangkan, untuk berkeliling kawasan hutan mangrove di tepian Segara Anakan terdapat tambahan biaya karena hal tersebut merupakan trip tambahan yang diusahakan oleh pemilik perahu.

Pemandangan saat menyusuri Segara Anakan mirip perjalanan membelah Sungai Amazon di Amerika Selatan. Pemandangan alam yang disajikan seperti dua pulau yang terpisah, dengan warna air kecoklatan, serta bermacam-macam tanaman bakau dan juga aktivitas para nelayan mencari ikan di kawasan Segara Anakan.

Keberadaan Hutan Mangrove Bedul layak untuk wisata jelajah alam dalam satu hari, lantaran luasnya kawasan dan cukup banyak daya tarik wisata yang ditawarkan. Untuk mencapai obyek wisata ini dari pusat Kota Banyuwangi mengarah ke selatan menuju Taman Nasional Alas Purwo.

Kondisi jalan dari pusat kota Banyuwangi hingga sekitar Srono cukup lebar namun mulai menyempit dan sedikit ketika memasuki jalur penghubung Srono-Grajagan hingga tiba di gerbang masuk taman nasional. (L-FAU / Foto: Wisata Jawa Timur / Flickr)